Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Desember 2011

PENYEBAB KELUAR DARI ISTIQOMAH


Setiap manusia diciptakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam keadaan memiliki pembisik jahat yang memiliki target berbahaya. Bila manusia tersebut salah melangkah maka akan menjadi mangsa si pembisik yang jahat itu. 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengisyaratkan dalam sabda beliau tentang adanya pembisik ini dalam hadits riwayat Al-Imam Muslim no. 2815 dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anhu:
مَا لَكِ يَا عَائِشَةُ أَغِرْتِ؟ فَقُلْتُ: وَمَا لِي لاَ يُغَارُ مِثْلِي عَلَى مِثْلِكَ؟ فَقَالَ: أَوْ قَدْ جَاءَكِ شَيْطَانُكِ؟ قَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ أَوَ مَعِي شَيْطَانٌ؟ قَالَ: نَعَمْ. قُلْتُ: وَمَعَ كُلِّ إِنْسَانٍ؟ قَالَ: نَعَمْ. قُلْتُ: وَمَعَكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: نَعَمْ، وَلَكِنْ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ أَعَانَنِي عَلَيْهِ حَتَّى أَسْلَمَ


“Ada apa dengan dirimu wahai ‘Aisyah, apakah kamu cemburu?” Aku (‘Aisyah) menjawab: “Bagaimana aku tidak cemburu terhadap orang seperti engkau.” Beliau berkata: “Ataukah telah datang syaithan (yang menjadi) pendampingmu?” Aku berkata: “Ya Rasulullah, apakah (ada) syaithan yang bersamaku?” Rasulullah menjawab: “Ya” Aku berkata: “Apakah setiap manusia didampingi syaithan?” Beliau berkata: “Ya” Lalu aku berkata: “Bersamamu juga?” Beliau menjawab: “Ya, akan tetapi Allah telah menolong diriku atasnya sehingga (ia) masuk Islam.”
Tahukah pembaca, siapa pembisik yang jahat itu? Dialah syaithan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam rangka mengingatkan kita:

وَلاَ تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ. إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوْءِ وَالْفَحْشآءِ وَأَنْ تَقُوْلُوا عَلَى اللهِ ما لاَ تَعْلَمُوْنَ

“Dan jangan kalian mengikuti langkah-langkah syaithan, sesungguhnya dia bagi kalian adalah musuh yang nyata. Sesungguhnya dia selalu memerintah kalian untuk (melakukan) kejahatan dan kekejian dan agar kalian mengucapkan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui.”  (Al-Baqarah: 168-169)
Demikianlah betapa bahayanya pembisik ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewanti-wanti setiap hamba-Nya agar mewaspadai ulah syaithan dan tidak terjatuh dalam bujuk rayu mautnya. Sekali terjatuh dalam jeratannya, akan sulit untuk melepaskan diri kecuali orang-orang yang Allah beri rahmat dan pertolongan.
Sikap senantiasa mewaspadai bujuk rayu syaithan dan menjauhi perbuatan yang bisa mengantarkan seseorang terjerumus pada perbuatan dosa yang sangat disukai syaithan, semestinya dimiliki oleh tiap muslim. Inilah faktor utama seseorang bisa bertahan meniti jalan istiqamah.
Dari sini betapa agung sikap istiqamah dan betapa celaka bagi orang yang keluar dari istiqamah. Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu mengatakan: “Makna istiqamah adalah: Senantiasa di atas ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan (kalimat ini) termasuk dari Jawami’ Al-Kalim (lafadznya singkat dan maknanya padat) dan dia adalah pengatur semua perkara.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an:

إِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلاَئِكَةُ أَلاَّ تَخَافُوْا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Rabb kami adalah Allah, kemudian berpegang teguh padanya niscaya malaikat akan turun atas mereka untuk (memberikan kabar gembira) agar kalian jangan takut dan bersedih. Bergembiralah dengan jannah yang telah dijanjikan buat kalian.” (Fushshilat: 30)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan dalam sabdanya tentang seseorang yang tidak istiqamah sebagaimana dalam hadits riwayat Al-Imam Muslim no. 118 dari shahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيْعُ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Di pagi hari seorang beriman dan di sore harinya menjadi kafir, dan di sore harinya beriman di pagi harinya menjadi kafir. Dia melelang (menjual) agamanya dengan harta benda dunia.”
Termasuk perkara yang nyata dalam kehidupan, yang tidak akan dipungkiri oleh setiap orang adalah adanya sunnatullah (ketetapan Allah) bagi setiap hamba yang tidak akan berubah. Di antara hamba ada yang tersesat semenjak beban syariat harus ia tunaikan sampai ia menghadap Allah. Dan ada pula yang mendapatkan hidayah untuk istiqamah di awal perjalanan hidupnya namun di akhir kehidupan menjadi orang yang tersesat. Ada pula yang sebaliknya, di akhir kehidupan dia mendapatkan hidayah di jalan istiqamah meski awalnya penuh bergelimang dengan dosa dan maksiat. Inilah sunnatullah yang tidak bisa ditolak oleh setiap orang.
سُنَّةَ اللهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللهِ تَبْدِيْلاً

“Sunnatullah telah berlalu (berlaku) dari sebelumnya. Sekali-kali kamu tidak akan menjumpai pada sunnatullah itu perubahan.” (Al-Fath: 23)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ وَمَا أَنَا بِظَلاَّمٍ لِّلْعَبِيْدِ


“Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah, dan Aku sekali-kali tidak akan menganiaya hamba-hamba-Ku.” (Qaf: 29)
Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Al-Fawaid berkata: “Ada yang berpendapat, yang dimaksudkan (dalam ayat ini) seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
لأَمْلأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

“Sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka jahannam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.” (Hud: 119)
Sementara janji-janji yang diberikan kepada orang beriman adalah jannah. Hal ini tidak akan bisa diubah dan tidak bisa ditentang.”
Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: “Maksudnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‘Apa yang sudah Aku janjikan kepada orang-orang yang taat dan yang mendurhakai-Ku tidak akan berubah’.” Mujahid rahimahullah berkata: “Telah Aku putuskan apa yang memang Ku-putuskan.” Dan masih banyak penafsiran lain tentang ayat ini, namun yang paling benar adalah kedua penafsiran tersebut.
Beberapa Penyebab Keluar dari Istiqamah
Mengetahui perkara yang bisa menyebabkan seseorang keluar dari jalan istiqamah merupakan perkara yang sangat penting. Hudzaifah Ibnul Yaman radhiallahu ‘anhu berkata: “Orang-orang (para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang kebaikan, namun aku bertanya kepada beliau tentang kejahatan (karena) khawatir (kejahatan tersebut) menimpaku.”
(HR. Al-Bukhari)
Melalui hadits ini dan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ

“Agama itu adalah nasihat.” (HR. Muslim dari shahabat Tamim Ad-Dari radhiallahu ‘anhu)
Ada beberapa perkara yang menyebabkan seseorang menyeleweng dan keluar dari istiqamah, di antaranya:
a.   Hilangnya dasar-dasar keistiqamahan di tengah kaum muslimin dan terbukanya pintu-pintu penyelewengan yang berakibat mendekatnya penyeru-penyeru penyelewengan dari kalangan syaithan jin dan manusia. Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya, Ibnu Majah dalam Sunan-nya, Ibnu Hibban di dalam Shahih-nya, Ad-Darimi di dalam Sunan-nya dan selain mereka dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani di dalam kitab Shahih Sunan Ibnu Majah, 1/7, hadits no. 11, dari shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat sebuah garis lurus dengan tangan beliau dan mengatakan: “Ini adalah jalan Allah yang lurus.” Lalu beliau menggaris dari kanan dan kiri kemudian mengatakan: “Ini adalah jalan-jalan yang tidak ada satupun dari jalan-jalan tersebut melainkan syaithan menyeru di atasnya.” Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: “Ini adalah jalanku yang lurus maka ikutilah dia, dan jangan kalian mengikuti jalan-jalan yang menyebabkan kalian terpisah dari jalan-Nya. Demikianlah wasiat Allah kepada kalian agar kalian menjadi orang yang bertakwa.”
b.   Meninggalkan pendidikan Islami bagi generasi muslim sejak dini dan menganggap perkara tersebut sebagai perkara kecil. Generasi penerus itu tidak diarahkan kepada sesuatu yang bermanfaat untuk kehidupan dunia dan akhirat mereka. Lalu bagaimana bisa diharapkan bila demikian cara peletakan batu pertama terhadap generasi Islam, agar dia tumbuh menjadi orang yang cinta terhadap ketaatan, benci terhadap kemaksiatan dan selamat fitrahnya?
c.   Memberikan kebebasan kepada anak-anak untuk mencari kesenangan hidup tanpa ada aturan syariat. Sehingga anak pun melakukan segala kerusakan selama dia bisa mendapatkan kesenangan, seperti permainan yang melalaikan, menonton film-film porno dan sinema yang penuh kedustaan, narkoba, ‘dugem’, pergaulan bebas, merokok, musik, dan lain-lain.
d.   Hilangnya perhatian para guru terhadap anak didiknya, sehingga mereka berbuat apa saja yang diinginkan, walaupun hal itu bertentangan dengan apa yang dikajinya. Hal ini mengakibatkan pada diri mereka muncul dua pendorong yang berbahaya. Pertama: Dorongan untuk terjerumus menjadi orang yang menyeleweng, dan Kedua: Menjadi orang yang bangkrut kehidupan dunia dan akhiratnya.
e.   Meninggalkan rumah-rumah Allah Subhanahu wa Ta’ala (masjid) dan tidak memenuhi panggilan seruan da’i-Nya, karena melanglang buana dalam aktivitas yang tidak berguna untuk dunia, terlebih untuk akhirat. Inilah mayoritas perbuatan yang dilakukan di tengah muslimin, terlebih di kalangan para pemuda yang cenderung senantiasa melampiaskan nafsunya.
f.    Bertebarannya kemungkaran di tengah-tengah kaum muslimin dan terciptanya lingkungan yang jelek dan kotor. Semua ini sangat mungkin menjadi sebab terjadinya penyelewengan dan keluar dari istiqamah.
g.   Terlepasnya tali hubungan antara anak dan bapak yang shalih lagi bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga anak menempuh jalan-jalan kedurhakaan yang merupakan seruan Iblis dan tentara-tentaranya untuk menuntut keadilan dan kebebasan hidup dari orang tua yang shalih dan bertakwa tersebut. (Lihat kitab Asbab Istiqamah Asy-Syabab wa Bawa’its Inhirafihim karya Asy-Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi Al-Madkhali, hal. 29-32).
Ini beberapa sebab terjadinya penyelewengan dan keluarnya seorang muslim dari jalur istiqamah. Keadaan ini membutuhkan jawaban (solusi) agar jangan sampai generasi Islam pada masa yang mendatang menjadi pengibar bendera kesesatan dan penyelewengan, menjadi generasi yang tidak berdaya di hadapan musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala, generasi yang egois, rusak moral, menjadi generasi yang rendah dan budak piaraan musuh-musuh mereka. Tentu jawabannya adalah harus kembali meniti jalan salaf (pendahulu) kita yang shalih di dalam memahami dan mengamalkan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِيْنِكُمْ

“Allah akan menimpakan kepada kalian kehinaan dan tidak akan tercabut kehinaan tersebut sampai kalian kembali kepada agama kalian.”  (HR. Abu Dawud dari shahabat Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma. Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 423)
Al-Imam Malik rahimahullah mengatakan:
لَنْ يُصْلِحَ أَمْرَ هَذِهِ اْلأُمَّةِ إِلاَّ مَا أَصْلَحَ بِهَا أَوَّلَهَا


“Sekali-kali tidak akan ada yang memperbaiki urusan umat ini melainkan (harus kembali) kepada apa yang telah memperbaiki umat terdahulu.”
Seorang penyair mengatakan:
كُلُّ خَيْرٍ فِي اتِّبَاعِ مَنْ سَلَفَ وَكُلُّ شَرٍّ فِي ابْتِدَاعِ مَنْ خَلَفَ


“Setiap kebaikan itu karena mengikuti salaf dan setiap kejahatan itu karena kebid’ahan orang kemudian.”
Abu ‘Amr Al-Auza’i rahimahullah mengatakan:
عَلَيْكَ بِآثَارِ مَنْ سَلَفَ وَإِنْ رَفَضَكَ النَّاسُ


“Hendaklah kamu mengikuti jalan-jalan pendahulumu yang shalih sekalipun orang-orang menolakmu (tidak menyukaimu).”
Penulis : Al Ustadz Abu Usamah bin Rawiyyah An Nawawi
Sumber : www.asysyariah.com

Sabtu, 05 November 2011

ESENSI MAKNA QURBAN



Hari Raya Korban adalah peristiwa besar yang melambangkan sejarah agama tauhid, pengorbanan yang ikhlas kerana Allah dan usaha terus menerus untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Ia merupakan amalan tradisi para nabi sejak Adam hingga Nabi Muhammad s.a.w.
Berkorban merupakan salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah. Dengan demikian, maka seharusnya kita menghayati kembali sabda Nabi s.a.w yang artinya :
”Barang siapa yang mempunyai keluasan rizki, lalu tidak berkorban, maka janganlah mendekati tempat solat kami.” ( Riwayat Ibnu Majah )
Dalam suatu peristiwa yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah dari Zaid bin Arqam, pernah seorang sahabat bertanya kepada baginda Rasulullah :
‘‘Wahai Rasulullah, apakah arti korban ini?” tanya sahabat. ‘‘Itulah sunnah dari datukmu Ibrahim,” jawab Rasulullah. “Apakah keuntungan korban itu untuk kita?” tanya sahabat itu lagi. ‘‘Setiap helai bulu hewan korban itu merupakan satu kebaikan (hasanah),” jawab Rasulullah. Seandainya ada sesuatu yang lebih utama dari pada penyembelihan hewan korban yang menjadi penebusan manusia di atas segala nikmat, tentunya Allah tidak akan menyebutkan penyembelihan hewan korban itu meneruskan firman-Nya yang artinya: ”Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar, sebagai tebusan atas Ismail a.s.” ( As-Shaffat: 107 )
Berdasarkan penjelasan hadis dan firman Allah dalam al-Quran, bahwa amalan korban berasal dari Nabi Ibrahim a.s yang kemudian diwarisi oleh baginda Rasulullah sebagai satu ibadah dalam syariat Islam yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan.
Ibadah korban ini berawal dari zaman Nabi Ibrahim. Tatkala Nabi Ibrahim bersama putranya, Ismail, selesai membenahi Kaabah di Mekah atas perintah Allah yang merupakan pusat kegiatan bagi penegakan dasar-dasar tauhid, Allah s.w.t menguji kekokohan iman kedua nabi ini. Pengorbanan itu adalah pengorbanan yang paling tinggi nilainya dalam kehidupan, yaitu pengorbanan jiwa dan raga.
Menurut Imam Syafie, hukum korban adalah sunat muakkad yang amat dianjurkan kepada mereka yang mampu termasuk para hujjaj (jemaah haji) yang berada di Mina serta umat Islam yang berada di kampung halamannya sendiri, kerana itu adalah amalan yang amat dicintai Allah pada hari nahr ( Hari Raya ). Namun dengan demikian, terdapat sebagian ulama yang menyatakan ibadah kurban adalah wajib kepada mereka yang mampu berdasarkan firman Allah yang maksudnya :
”Maka dirikanlah shalat kepada Allah ( Tuhanmu ) dan berkorbanlah.” (Al-Kauthar: 2).
Di dalam Al-Quran dijelaskan tentang pengorbanan dua orang anak Nabi Adam. Anak pertama memberi korban dengan tulus ikhlas atas dasar niat demi mematuhi perintah Allah s.w.t. dan mendekatkan diri kepada-Nya. Dan anak yang kedua juga berkorban akan tetapi tidak berdasarkan atas ketulusan hati dan usaha yang sungguh-sungguh untuk mendekatkan diri kepada Allah.Dengan demikian, korban anak yang pertama diterima di sisi Allah s.w.t, sedangkan anak kedua tidak diterima oleh Allah. Allah berfirman yang artinya :
“Dan bacakanlah ( wahai Muhammad ) kepada mereka kisah (tentang) dua orang anak Adam ( Habil dan Qabil ) yang berlaku dengan sebenarnya, yaitu ketika mereka berdua melaksanakan korban ( untuk mendekatkan diri kepada Allah ). Lalu diterima korban salah seorang antara mereka ( Habil ), dan tidak diterimanya ( korban ) dari yang lain ( Qabil ). Berkata ( Qabil ): “Sesungguhnya aku akan membunuhmu.” Lalu Habil menjawab: “ Hanya Allah menerima ( korban ) dari orang-orang yang bertakwa.” (Al-Maidah: 27)
Amalan ibadah korban ini kemudian diteruskan oleh Nabi Ibrahim a.s sebagaimana firman Allah yang artinya :
“Maka tatkala anaknya itu sampai pada masa-masa mendekatkan diri kepada-Nya, Nabi Ibrahim berkata: “Wahai anak kesayanganku. Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahawa aku akan menyembelihmu; maka fikirkanlah apa pendapatmu ? Anaknya menjawab: “Wahai ayah, laksanakanlah apa yang Allah perintahkan kepadamu, insya-Allah, ayah akan mendapati diriku dari orang-orang yang sabar.” (Al-Shaffat: 102)
Mengapa Allah memerintahkan Nabi Ibrahim a.s menyembelih Ismail kemudian membatalkannya dan menebusnya dengan seekor kibasy ? Ini bukanlah hanya ujian semata untuk keduanya, bukan pula hanya sekedar membuktikan ketabahan keluarga Ibrahim, tetapi adalah penjelasan kepada siapa saja bahawa tidak ada sesuatu apapun yang amat bernilai untuk dikorbankan apabila telah tiba panggilan atau seruan Ilahi. Inilah bukti iman sejati. Akan tetapi harus kita ingat bahawa pembatalan tersebut bukanlah kerana nilai manusia yang terlalu mahal untuk berkorban kerana Allah, akan tetapi pembatalan ini lebih bermakna agar seluruh umat manusia mengerti dan menghargai makna kemanusiaan itu sendiri serta besarnya kasih sayang Allah s.a.w kepada umat manusia.
Amalan korban adalah sebagian usaha kita mendekatkan diri ( taqarrub ) kepada Allah s.w.t. Sedangkan mendekatkan hubungan antara manusia dengan Allah ini dikenali sebagai amaliah yang bersifat vertikal. Dan ada juga amaliah yang bersifat horizontal, ibadah penyembelihan korban akan meningkatkan hubungan antara manusia dengan manusia melalui pembagian daging-daging korban terutama kepada orang-orang fakir dan miskin. Ini menunjukkan bahawa takwa yang bersifat personal dan vertikal ( hubungan hamba dengan Tuhannya ) akan selalu sering dan tidak akan terpisahkan dengan hubungan hamba itu yang lainnya. Amal sosial seperti korban ini harus didasarkan niat dan ketulusan hati pada Allah. Melalui ibadah korban inilah tersirat makna yang mendalam bahwa manusia memerlukan pengorbanan dalam menuju kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Ibadah korban adalah memanifestasikan rasa syukur dan puncak takwa. Ia menjadi tanda kembalinya manusia kepada Allah s.w.t setelah menghadapi berbagai macam ujian dan terpedaya rayuan setan sehingga menjauhkan diri daripada Allah dan mengingkari larangan-Nya. Korban disyariatkan untuk mengingatkan manusia bahawa jalan menuju kebahagiaan memerlukan pengorbanan berat. Akan tetapi, yang dikorbankan bukanlah manusia, bukan pula nilai-nilai kemanusiaan tetapi hewan sebagai pertanda bahawa pengorbanan harus ditunaikan dan bahwa yang dikorbankan adalah sifat-sifat kebinatangan dalam diri manusia saperti sifat rakus, tamak, ego, mengabaikan norma, nilai dan sebagainya. Secara harfiah, kesempurnaan ibadah korban ini bermakna membunuh segala sifat kebinatangan yang terdapat dalam diri manusia.
Berdasarkan kisah Habil dan Qabil tentang korban yang diterima oleh Allah, jelas menunjukkan bahawa keikhlasan itu adalah sifat yang paling utama dalam ibadah. Amalan berkorban harus dengan hewan yang baik (sehat) dan berkualitas baik, tidak cacat, cukup umur serta banyak dagingnya. Walaupun darah atau daging itu tidak sampai kepada Allah, tetapi yang lebih penting adalah ketakwaan kepada Allah. Korban tidak akan memberi makna bagi Allah, kerana Allah tidak memerlukan apapun.
Dengan korban tersebut diharapkan agar ketakwaan kita kepada Allah semakin meningkat. Dan kita adalah hamba-Nya yang sentiasa memerlukan bimbingan serta petunjuk-Nya. Oleh karena itu amal kebajikan, baik yang bersifat sosial maupun yang individual kuncinya ialah takwa. Dalam hal ini Allah s.w.t berfirman yang artinya :
”Daging dan darah binatang korban yang kau persembahkan itu tidaklah sekali-kali akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya ialah amal yang ikhlas yang berdasarkan takwa.” (Al-Hajj: 37)
Bila pelaksanaan korban hewan ternak sebagai ritual keagamaan yang dilakukan pada hari-hari tertentu pada bulan haji, maka segala bentuk pengorbanan yang dilakukan oleh umat Islam pada hari-hari yang lain juga dapat disebut dengan pengorbanan apabila disertai dengan takwa kepada Allah s.w.t.
Sikap itulah yang akan membedakan antara pengorbanan yang dilakukan demi kekasih, demi keluarga dan bangsa yang belum tentu Allah meridhai.

Jumat, 04 November 2011

Penyesalan Orang-orang yang Ingkar di Akhirat



Di dunia ini banyak orang-orang yang kafir. Tak jarang mereka begitu bangga akan kekafirannya. Ada yang bangga menjadi atheist dan lantang menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada. Mereka anggap bodoh orang-orang yang percaya akan adanya Tuhan.
Ada pula yang meski mengaku beriman, namun mengingkari perintah Allah. Mereka justru menghalangi tegaknya syariat Islam. Menghalangi tegaknya hukum Allah. Sebaliknya mereka justru menjadi pendukung sistem buatan manusia yang merupakan buatan dari kaum Judeo-Christian (Yahudi dan Nasrani).
Ada juga yang enggan mengerjakan shalat, malas berpuasa, tidak mau membayar zakat, atau tidak mau naik haji meski mampu. Padahal itu adalah kewajiban utama yang masuk dalam 5 rukun Islam.
Surat Al An’aam 25-31:
Kelak orang-orang seperti ini akan menyesal di akhirat nanti. Di bawah adalah ayat-ayat Al Qur’an yang menggambarkan penyesalan mereka. Saat siksa neraka yang pedih akan menimpa mereka, ingin rasanya mereka kembali ke dunia dan mengerjakan segala perintah Allah.
وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ وَجَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لا يُؤْمِنُوا بِهَا حَتَّى إِذَا جَاءُوكَ يُجَادِلُونَكَ يَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلا أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ
Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan) mu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jika pun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: “Al Qur’an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu”.
وَهُمْ يَنْهَوْنَ عَنْهُ وَيَنْأَوْنَ عَنْهُ وَإِنْ يُهْلِكُونَ إِلا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
Mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al Qur’an dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya, dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari.
وَلَوْ تَرَى إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلا نُكَذِّبَ بِآيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman”, (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan).
بَلْ بَدَا لَهُمْ مَا كَانُوا يُخْفُونَ مِنْ قَبْلُ وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ
Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka.
وَقَالُوا إِنْ هِيَ إِلا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ
Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): “Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan”.
وَلَوْ تَرَى إِذْ وُقِفُوا عَلَى رَبِّهِمْ قَالَ أَلَيْسَ هَذَا بِالْحَقِّ قَالُوا بَلَى وَرَبِّنَا قَالَ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ
Dan seandainya kamu melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya (tentulah kamu melihat peristiwa yang mengharukan). Berfirman Allah: “Bukankah (kebangkitan) ini benar?” Mereka menjawab: “Sungguh benar, demi Tuhan kami”. Berfirman Allah: “Karena itu rasakanlah azab ini, disebabkan kamu mengingkari (nya)”.
قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِلِقَاءِ اللَّهِ حَتَّى إِذَا جَاءَتْهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً قَالُوا يَا حَسْرَتَنَا عَلَى مَا فَرَّطْنَا فِيهَا وَهُمْ يَحْمِلُونَ أَوْزَارَهُمْ عَلَى ظُهُورِهِمْ أَلا سَاءَ مَا يَزِرُونَ
Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: “Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!”, sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu.
[Surat Al An'aam 25-31]
Bagaimana mereka tidak menyesal mengingat kedahsyatan kiamat dan neraka itu amat dahsyat hingga seorang ibu yang tengah menyusui anaknya sampai lupa pada anaknya:
“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).
(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya.” [Al Hajj 1-2]
Begitu mengerikan hingga anak-anak rambutnya menjadi beruban:
“Maka bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu tetap kafir kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban.
Langit(pun) menjadi pecah belah pada hari itu. Adalah janji-Nya itu pasti terlaksana.”
[Al Muzzammil 17-18]
Pada Surat Al Fajr 17-26 dijelaskan bagaimana orang yang tidak memuliakan anak yatim, tak mau sedekah, dan korup akhirnya menyesal tatkala diperlihatkan neraka yang begitu dahsyat dan mengerikan. Neraka itu untuk menyiksa dirinya:
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang batil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.
Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris.
dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya.
Dia mengatakan: “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.”
Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya, dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya.
[Surat Al Fajr 17-26]
Dia menyesal karena mencintai harta benda dengan berlebihan dan ingin agar bisa kembali sehingga dapat bersedekah. Namun sia-sia. Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna!
Surat Saba’ 31-33 menjelaskan bagaimana orang yang tidak beriman kepada Al Qur’an akhirnya menyesal. Para penyesat dan orang yang disesatkan pun saling menyalahkan:
“Dan orang-orang kafir berkata: “Kami sekali-kali tidak akan beriman kepada Al Qur’an ini dan tidak (pula) kepada Kitab yang sebelumnya”. Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang lalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebahagian dari mereka menghadapkan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Kalau tidaklah karena kamu tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman”.
Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah: “Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa”.
Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “(Tidak) sebenarnya tipu daya (mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya”. Kedua belah pihak menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat azab. Dan Kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan.
[Saba' 31-33]
Pada surat Yunus 48-54, orang-orang kafir tidak percaya akan hari pembalasan. Bahkan minta disegerakan jika memang ada:
“Mereka mengatakan: “Bilakah (datangnya) ancaman itu, jika memang kamu orang-orang yang benar?”
Katakanlah: “Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudaratan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah.” Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan (nya).
Katakanlah: “Terangkan kepadaku, jika datang kepada kamu sekalian siksaan-Nya di waktu malam atau di siang hari, apakah orang-orang yang berdosa itu minta disegerakan juga?”
Kemudian apakah setelah terjadinya (azab itu), kemudian itu kamu baru mempercayainya? Apakah sekarang (baru kamu mempercayai), padahal sebelumnya kamu selalu meminta supaya disegerakan?
Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang lalim (musyrik) itu: “Rasakanlah olehmu siksaan yang kekal; kamu tidak diberi balasan melainkan dengan apa yang telah kamu kerjakan.”
Dan mereka menanyakan kepadamu: “Benarkah (azab yang dijanjikan) itu?” Katakanlah: “Ya, demi Tuhan-ku, sesungguhnya azab itu adalah benar dan kamu sekali-kali tidak bisa luput (daripadanya)”.
Dan kalau setiap diri yang lalim (musyrik) itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia menebus dirinya dengan itu, dan mereka menyembunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu. Dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dianiaya.
[Yunus 48-54]
Saat siksa itu datang mereka menyesal. Bahkan bersedia menebus dengan segala yang ada.
Di dunia ini banyak orang-orang yang kafir. Tak jarang mereka begitu bangga akan kekafirannya. Ada yang bangga menjadi atheist dan lantang menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada. Mereka anggap bodoh orang-orang yang percaya akan adanya Tuhan.
Ada pula yang meski mengaku beriman, namun mengingkari perintah Allah. Mereka justru menghalangi tegaknya syariat Islam. Menghalangi tegaknya hukum Allah. Sebaliknya mereka justru menjadi pendukung sistem buatan manusia yang merupakan buatan dari kaum Judeo-Christian (Yahudi dan Nasrani).
Ada juga yang enggan mengerjakan shalat, malas berpuasa, tidak mau membayar zakat, atau tidak mau naik haji meski mampu. Padahal itu adalah kewajiban utama yang masuk dalam 5 rukun Islam.
Surat Al An’aam 25-31:
Kelak orang-orang seperti ini akan menyesal di akhirat nanti. Di bawah adalah ayat-ayat Al Qur’an yang menggambarkan penyesalan mereka. Saat siksa neraka yang pedih akan menimpa mereka, ingin rasanya mereka kembali ke dunia dan mengerjakan segala perintah Allah.
وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ وَجَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لا يُؤْمِنُوا بِهَا حَتَّى إِذَا جَاءُوكَ يُجَادِلُونَكَ يَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلا أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ
Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan) mu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jika pun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: “Al Qur’an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu”.
وَهُمْ يَنْهَوْنَ عَنْهُ وَيَنْأَوْنَ عَنْهُ وَإِنْ يُهْلِكُونَ إِلا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
Mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al Qur’an dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya, dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari.
وَلَوْ تَرَى إِذْ وُقِفُوا عَلَى النَّارِ فَقَالُوا يَا لَيْتَنَا نُرَدُّ وَلا نُكَذِّبَ بِآيَاتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata: “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman”, (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan).
بَلْ بَدَا لَهُمْ مَا كَانُوا يُخْفُونَ مِنْ قَبْلُ وَلَوْ رُدُّوا لَعَادُوا لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَإِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ
Tetapi (sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya. Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka.
وَقَالُوا إِنْ هِيَ إِلا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ
Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): “Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan”.
وَلَوْ تَرَى إِذْ وُقِفُوا عَلَى رَبِّهِمْ قَالَ أَلَيْسَ هَذَا بِالْحَقِّ قَالُوا بَلَى وَرَبِّنَا قَالَ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ
Dan seandainya kamu melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya (tentulah kamu melihat peristiwa yang mengharukan). Berfirman Allah: “Bukankah (kebangkitan) ini benar?” Mereka menjawab: “Sungguh benar, demi Tuhan kami”. Berfirman Allah: “Karena itu rasakanlah azab ini, disebabkan kamu mengingkari (nya)”.
قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِلِقَاءِ اللَّهِ حَتَّى إِذَا جَاءَتْهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً قَالُوا يَا حَسْرَتَنَا عَلَى مَا فَرَّطْنَا فِيهَا وَهُمْ يَحْمِلُونَ أَوْزَارَهُمْ عَلَى ظُهُورِهِمْ أَلا سَاءَ مَا يَزِرُونَ
Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: “Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!”, sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu.
[Surat Al An'aam 25-31]
Bagaimana mereka tidak menyesal mengingat kedahsyatan kiamat dan neraka itu amat dahsyat hingga seorang ibu yang tengah menyusui anaknya sampai lupa pada anaknya:
“Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).
(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya.”
[Al Hajj 1-2]
Begitu mengerikan hingga anak-anak rambutnya menjadi beruban:
“Maka bagaimanakah kamu akan dapat memelihara dirimu jika kamu tetap kafir kepada hari yang menjadikan anak-anak beruban.
Langit(pun) menjadi pecah belah pada hari itu. Adalah janji-Nya itu pasti terlaksana.”
[Al Muzzammil 17-18]
Pada Surat Al Fajr 17-26 dijelaskan bagaimana orang yang tidak memuliakan anak yatim, tak mau sedekah, dan korup akhirnya menyesal tatkala diperlihatkan neraka yang begitu dahsyat dan mengerikan. Neraka itu untuk menyiksa dirinya:
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang batil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.
Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris.
dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahanam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya.
Dia mengatakan: “Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.”
Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya, dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya.
[Surat Al Fajr 17-26]
Dia menyesal karena mencintai harta benda dengan berlebihan dan ingin agar bisa kembali sehingga dapat bersedekah. Namun sia-sia. Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna!
Surat Saba’ 31-33 menjelaskan bagaimana orang yang tidak beriman kepada Al Qur’an akhirnya menyesal. Para penyesat dan orang yang disesatkan pun saling menyalahkan:
“Dan orang-orang kafir berkata: “Kami sekali-kali tidak akan beriman kepada Al Qur’an ini dan tidak (pula) kepada Kitab yang sebelumnya”. Dan (alangkah hebatnya) kalau kamu lihat ketika orang-orang yang lalim itu dihadapkan kepada Tuhannya, sebahagian dari mereka menghadapkan perkataan kepada sebagian yang lain; orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Kalau tidaklah karena kamu tentulah kami menjadi orang-orang yang beriman”.
Orang-orang yang menyombongkan diri berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah: “Kamikah yang telah menghalangi kamu dari petunjuk sesudah petunjuk itu datang kepadamu? (Tidak), sebenarnya kamu sendirilah orang-orang yang berdosa”.
Dan orang-orang yang dianggap lemah berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “(Tidak) sebenarnya tipu daya (mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami), ketika kamu menyeru kami supaya kami kafir kepada Allah dan menjadikan sekutu-sekutu bagi-Nya”. Kedua belah pihak menyatakan penyesalan tatkala mereka melihat azab. Dan Kami pasang belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan dengan apa yang telah mereka kerjakan.
[Saba' 31-33]
Pada surat Yunus 48-54, orang-orang kafir tidak percaya akan hari pembalasan. Bahkan minta disegerakan jika memang ada:
“Mereka mengatakan: “Bilakah (datangnya) ancaman itu, jika memang kamu orang-orang yang benar?”
Katakanlah: “Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudaratan dan tidak (pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah.” Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak (pula) mendahulukan (nya).
Katakanlah: “Terangkan kepadaku, jika datang kepada kamu sekalian siksaan-Nya di waktu malam atau di siang hari, apakah orang-orang yang berdosa itu minta disegerakan juga?”
Kemudian apakah setelah terjadinya (azab itu), kemudian itu kamu baru mempercayainya? Apakah sekarang (baru kamu mempercayai), padahal sebelumnya kamu selalu meminta supaya disegerakan?
Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang lalim (musyrik) itu: “Rasakanlah olehmu siksaan yang kekal; kamu tidak diberi balasan melainkan dengan apa yang telah kamu kerjakan.”
Dan mereka menanyakan kepadamu: “Benarkah (azab yang dijanjikan) itu?” Katakanlah: “Ya, demi Tuhan-ku, sesungguhnya azab itu adalah benar dan kamu sekali-kali tidak bisa luput (daripadanya)”.
Dan kalau setiap diri yang lalim (musyrik) itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu dia menebus dirinya dengan itu, dan mereka menyembunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu. Dan telah diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dianiaya.
[Yunus 48-54]
Saat siksa itu datang mereka menyesal. Bahkan bersedia menebus dengan segala yang ada.
Sumber : http://media-islam.or.id/
 

Copyright 2008 All Rights Reserved | RENUNGAN ISLAMI Designed by Bloggers Template | CSS done by Link Building